02 April 2024
3 menit baca

Simulasi Keuntungan Investasi Film: Panduan untuk Pemula

3 menit baca

keuntungan investasi film

 

Apakah Anda tertarik untuk berinvestasi dalam industri film namun belum yakin dengan potensi keuntungannya? Simulasi keuntungan investasi film dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana investasi ini bisa menjadi pilihan yang menguntungkan. Dalam artikel ini, kami akan membahas tentang simulasi keuntungan investasi film dan bagaimana Anda dapat memulai investasi ini sebagai pemula.

 

Daftar Sumber Keuntungan Film di Indonesia

 

Pendapatan sebuah film tidak hanya berasal dari penjualan tiket bioskop saja. Dalam era digital yang semakin maju, industri film telah meluaskan jalur pemasaran dan mendapatkan keuntungan dari berbagai sumber. 

 

  • Penjualan Tiket Bioskop

Penjualan tiket bioskop merupakan sumber pendapatan tradisional bagi film. Ketika film baru dirilis, bioskop menjadi tujuan utama bagi para penonton yang ingin menikmati pengalaman menonton di layar lebar. 

 

Pendapatan dari penjualan tiket diperoleh berdasarkan jumlah penonton dan harga tiket yang berlaku. Faktor-faktor seperti popularitas film, bintang film yang terlibat, dan kampanye pemasaran yang efektif, dapat memengaruhi pendapatan yang dihasilkan melalui penjualan tiket bioskop.

 

  • Layanan Penayangan Daring (OTT)

Dalam beberapa tahun terakhir, popularitas platform over the top (OTT) atau layanan penayangan daring seperti Netflix, Amazon Prime, dan Disney+ telah meningkat dengan pesat. Platform ini menawarkan akses mudah ke berbagai film dan serial TV melalui internet. 

 

Film-film yang tidak dirilis di bioskop atau sudah melewati periode tayangnya dapat diakses melalui OTT. Keuntungan yang diperoleh melalui layanan OTT dapat berasal dari pendapatan langganan bulanan, iklan, atau pembelian film secara individu.

 

  • Hak Siar Televisi

Film-film yang telah dirilis di bioskop biasanya memiliki kesempatan untuk menjual hak siar kepada stasiun televisi. Stasiun televisi kemudian menayangkan film tersebut kepada penonton mereka. 

 

Pembayaran yang diterima melalui penjualan hak siar dapat bervariasi tergantung pada popularitas film, lama periode tayangnya, dan wilayah geografis tempat film ditayangkan.

 

  • Penjualan DVD dan Blu-ray

Meskipun penjualan DVD dan Blu-ray menurun secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, masih ada pasar bagi kolektor film dan orang-orang yang ingin memiliki salinan fisik film favorit mereka. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan DVD dan Blu-ray berasal dari penjualan langsung kepada konsumen atau melalui pengecer.

 

  • Produk dan Merchandise Terkait

Film-film populer sering kali menginspirasi penjualan produk dan merchandise terkait. Mulai dari mainan, pakaian, hingga aksesori, produsen dapat memanfaatkan popularitas film untuk meningkatkan penjualan produk mereka. Royalti dari produk dan merchandise terkait film juga bisa menjadi sumber pendapatan yang signifikan.

 

  • Penjualan Lisensi dan Hak Cipta

Film-film yang sukses memiliki potensi untuk menjual lisensi dan hak cipta mereka kepada pihak ketiga. Misalnya, soundtrack film dapat dijual secara terpisah, atau gambar-gambar dari film dapat digunakan untuk keperluan komersial, dan sebagainya.

 

Baca Juga: Mengenal Benson Capital & Potensi Investasi di Industri Film

 

Contoh Simulasi Keuntungan Film “Agak Laen”

 

Apakah Anda sudah menonton film “Agak Laen”? Film karya Ernest Prakasa yang tayang sejak 1 Februari 2024 lalu menjadi film komedi terlaris sepanjang masa di Indonesia setelah berhasil menggaet 7,3 juta penonton dalam waktu 25 hari. 

 

Kira-kira, jika dalam 25 hari film tersebut sudah ditonton lebih dari Rp7,3 juta penonton, berapa pendapatan film “Agak Laen”? Berikut simulasi singkatnya.

 

Estimasi pendapatan bioskop  (25 hari): 7,3 juta x Rp15.000 (Keuntungan per tiket) = Rp110,3 miliar

Estimasi modal: Rp20 – Rp25 miliar

Estimasi profit (25 hari): Rp85,3 – Rp90,3 miliar*

 

*Estimasi gambaran perhitungan pendapatan dari bioskop, belum termasuk OTT, FTA, dan International Distribution.

 

Kesimpulannya, dalam waktu kurang dari 1 bulan, estimasi profit  film “Agak Laen” bisa mencapai lebih dari Rp90 miliar. Sungguh sebuah nilai yang fantastis untuk satu film Indonesia!

 

Baca Juga: Malam Pencabut Nyawa dan Tumbal Darah Siap Tayang di Bioskop

 

Peluang Investasi Emas di Dunia Film bersama PT Benson Kapital Indonesia

 

Tahukah Anda bahwa saat ini, Anda punya kesempatan besar untuk ikut serta dalam pendanaan 2 proyek film horor bergengsi? Berjudul “Malam Pencabut Nyawa” dan “Tumbal Darah”, kedua film ini diproduksi oleh BASE Entertainment dan Wahana Kreator di bawah naungan PT Benson Kapital Indonesia.

 

Kerennya, kedua studio tersebut sukses mencetak film-film dan serial terbaik, beberapa di antaranya adalah dengan serial “Gadis Kretek” dan film “Dua Garis Biru”.

 

Nantinya, Anda bisa terlibat langsung di 2 proyek film horor tersebut dengan berinvestasi dengan modal yang terjangkau. Anda berpotensi meraih potensi keuntungan dengan estimasi return hingga 164%/tahun.

 

Nah, jika 2 film ini menghabiskan biaya Rp28,5 miliar dan estimasi per film ditonton sebanyak 1,5 juta penonton, maka, simulasi perhitungan keuntungan investasi kedua film ini adalah sebagai berikut.

 

Pendapatan bioskop: 3 juta x Rp15.000 = Rp45 miliar

Modal investor Bizhare: Rp1,2 miliar

Estimasi profit (bioskop): Rp45 miliar – Rp28,5 miliar = 16,5 miliar

Bagi hasil PH & Investor (50:50) = Rp8,2 miliar*

 

Jadi, return on investment nya mencapai 582% kurang dari setahun*. Banyak sekali, bukan?

 

*Estimasi gambaran perhitungan pendapatan dari bioskop.

 

Dengan proyek-proyek baru seperti “Malam Pencabut Nyawa” dan “Tumbal Darah“, investor memiliki kesempatan untuk terlibat dalam karya-karya masa depan yang menjanjikan. Inovasi dan kreativitas dalam pembuatan film-film ini menjadikan investasi di dunia film semakin menarik.

 

Bagi Anda yang tertarik untuk memajukan dunia perfilman Indonesia dengan berinvestasi di sini, silakan tekan button di bawah ini.

 

Cek Detail Bisnis

1218 Reads
Author: Diptyarsa Janardana
67 Suka