18 March 2024
4 menit baca

Inklusi Keuangan: Pengertian, Tujuan, dan Manfaat

4 menit baca

 

Saat ini, pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang berusaha meningkatkan keuangan inklusif di tengah masyarakat. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, apa itu inklusi keuangan? Lalu apa tujuan dan manfaatnya? Berikut informasi selengkapnya!

 

Pengertian Inklusi Keuangan

 

Inklusi keuangan atau keuangan inklusif adalah suatu kondisi di mana setiap anggota masyarakat mampu mendapatkan akses yang efektif terhadap kredit, tabungan, serta sistem pembayaran dan asuransi dari seluruh penyedia layanan finansial. 

 

Akses yang efektif ini juga termasuk layanan yang nyaman dan aman, dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat dan berkesinambungan untuk penyedia layanan. Harapannya, orang-orang dapat memanfaatkan layanan finansial yang formal daripada layanan finansial yang informal.

 

Gagasan ini diperkuat dengan definisi yang dijabarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahwa inklusif keuangan (financial inclusion) adalah jumlah orang yang menjadi nasabah atau pengguna jasa keuangan di Indonesia, entah mereka melakukan aktivitas penyimpanan uang, transfer, pinjaman, investasi, hingga asuransi.

 

Baca Juga: Lembaga Otoritas Jasa Keuangan (OJK): Pahami Wewenang, Fungsi dan Tugas OJK Berikut Ini!

 

Jenis Inklusi Keuangan

 

Saat ini, Bank Indonesia sedang membuat sebuah pedoman untuk meningkatkan inklusi keuangan yang disebut kebijakan keuangan inklusif. Kebijakan tersebut berbentuk pendalaman layanan keuangan (financial service deepening) yang menyasar masyarakat kelas menengah bawah. 

 

Harapannya, layanan finansial di Indonesia bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, tidak hanya kalangan atas saja. Setiap warga Indonesia berhak untuk mendapatkan kemudahan akses terhadap produk finansial.

 

Berikut ini merupakan jenis atau model inklusi keuangan yang ingin dimaksimalkan oleh pemerintah, yaitu:

 

  • Layanan perbankan, seperti menabung, tarik tunai di ATM, hingga mobile banking.
  • Layanan pinjaman online.
  • Layanan asuransi.
  • E-wallet.
  • Investasi.

 

Bila inklusi digital telah dicapai oleh masyarakat Indonesia, maka perekonomian pun dapat meningkat secara signifikan. Apalagi di era digitalisasi sekarang, pastinya akan lebih mudah jika masyarakat bisa menikmati layanan jasa keuangan karena dapat diakses dari mana saja, bahkan dari smartphone sekalipun.

 

Tujuan Inklusi Keuangan

 

Akses keuangan merupakan hak dasar bagi seluruh masyarakat Indonesia, di mana keberadaannya memiliki peran penting dalam meningkatkan hidup warga. Inilah yang hendak dicapai oleh kebijakan keuangan inklusif.

 

Maka dari itu, dilansir blog Otoritas Jasa Keuangan, tujuan inklusi keuangan adalah sebagai berikut:

 

  • Meningkatkan efisiensi ekonomi.
  • Mendukung stabilitas sistem keuangan.
  • Mengurangi shadow banking atau irresponsible finance.
  • Mendukung pendalaman pasar keuangan.
  • Memberikan potensi pasar baru bagi perbankan.
  • Mendukung peningkatan Human Development Index (HDI) Indonesia.
  • Berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional yang sustain dan berkelanjutan.
  • Mengurangi kesenjangan (inequality) dan rigiditas low income trap, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya berujung pada penurunan tingkat kemiskinan.

 

Perbedaan Literasi Keuangan dan Inklusi Keuangan

 

Literasi keuangan (financial literacy) adalah kemampuan seseorang untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan finansial, seperti produk-produk keuangan, cara berinvestasi, dan sebagainya.

 

Menariknya, Otoritas Jasa Keuangan pernah melakukan survei berkaitan dengan hal tersebut di tahun 2013. Dari sana, tingkat literasi keuangan penduduk Indonesia dibagi menjadi empat bagian, yakni:

 

  • Well literate (21,84%), yakni memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.
  • Sufficient literate (75,69%), memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.
  • Less literate (2,06%), hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan.
  • Not literate (0,41%), tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, serta tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

 

Perbedaan literasi keuangan dan inklusi keuangan terletak pada indikatornya. Untuk tingkat literasi keuangan, indikatornya terdiri dari pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku. Sementara itu, tingkat keuangan inklusif menggunakan parameter penggunaan produk/layanan keuangan dalam satu tahun terakhir.

 

Baca Juga: Literasi Keuangan: Pengertian, Manfaat, dan Penerapannya

 

Manfaat Inklusi Keuangan

 

Terciptanya keuangan inklusif di Indonesia ternyata mampu memberikan segudang manfaat, baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Apa sajakah manfaat yang muncul? Berikut daftarnya!

 

Masyarakat Mampu Membuat Perencanaan Keuangan

Dengan meningkatnya inklusi keuangan, maka semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses layanan atau produk keuangan. Alhasil, makin banyak masyarakat mampu membuat perencanaan keuangan dengan baik dan matang.

 

Nah, perencanaan keuangan yang matang mampu membuat kesejahteraan masyarakat meningkat. Mereka tak perlu khawatir akan masa depan, sebaliknya mereka sudah tahu hendak mengalokasikan dana untuk berbagai keperluan, misalkan investasi, dana pensiun, asuransi, dan sebagainya.

 

Baca Juga: Panduan Membuat Perencanaan Keuangan Pribadi, Bisa Untuk Jangka Panjang!

 

Literasi Keuangan Masyarakat Meningkat

Manfaat inklusi keuangan selanjutnya adalah mampu meningkatkan literasi keuangan suatu masyarakat. Seperti yang dijelaskan di atas, jika literasi finansial meningkat, maka makin banyak warga yang mampu mengakses produk atau layanan keuangan. 

 

Outputnya, mereka jadi semakin paham cara mengelola keuangan dengan benar dan tahu pengalokasiannya yang teratur. Bahkan, mereka mampu menggunakan dana tersebut sebagai sarana investasi untuk menambah penghasilan dalam jangka panjang.

 

Terciptanya Pemerataan Ekonomi

Keuangan inklusif diharapkan dapat membantu mengurangi masyarakat unbanked, sehingga dapat tercipta pemerataan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, permasalahan ekonomi bisa diatasi dengan baik dan solutif.

 

Sebagai contoh, apabila ada masyarakat yang butuh modal untuk membuka usaha, mereka dapat memanfaatkan layanan pinjaman dari perbankan atau melalui investasi pendanaan. Contoh konkritnya adalah melalui platform securities crowdfunding Bizhare.

 

Baca Juga: Cara Meningkatkan Literasi Keuangan, Amankan Masa Depan!

 

Ekonomi Negara Semakin Berkembang Maju

Inklusi keuangan mendorong seseorang merencanakan keuangan dengan matang, lalu membantu terciptanya pemerataan ekonomi, dan akhirnya mendorong ekonomi negara semakin berkembang maju.

 

Dengan kata lain, kemajuan suatu negara juga terjadi karena masyarakat tahu bagaimana cara untuk mendapat bantuan dalam mengembangkan usahanya atau berinvestasi untuk meraih keuntungan jangka panjang. 

 

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur yang berperan dalam inklusi keuangan adalah akses, ketersediaan produk dan layanan jasa keuangan, penggunaan, serta kualitas.

 

Semoga setelah membaca artikel ini, Teman Bizharian terdorong untuk belajar lebih banyak mengenai keuangan dan menggunakan produk-produk layanan finansial di Indonesia.

3683 Reads
Author: Diptyarsa Janardana
581 Suka