07 February 2024
3 menit baca

Sejarah Imlek & Perkembangannya di Indonesia

3 menit baca

sejarah imlek

 

Tahun Baru Imlek, atau yang dikenal sebagai perayaan Tahun Baru China, merupakan salah satu perayaan terpenting dalam budaya Tionghoa. Perayaan ini dipenuhi dengan tradisi kuno, mitos, dan ritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Mari kita eksplorasi sejarah Imlek dan melihat bagaimana perayaan ini menjadi begitu penting dalam budaya Tionghoa, khususnya di Indonesia.

 

Berawal dari Monster Nian

 

Imlek merupakan perayaan dimulainya festival musim semi di Tiongkok. Perayaan ini sudah berlangsung selama lebih dari 3.500 tahun dan telah melalui pengembangan cerita yang sarat dengan mitos dan cerita tradisional. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah legenda tentang makhluk mitos bernama Nian.

 

Menurut Wang Qixia, seorang pengajar bahasa Tionghoa di Universitas Edinburgh yang dikutip oleh Confucius Institute for Scotland, Nian adalah makhluk buas yang mirip singa bertanduk runcing. Konon, ia hidup pada zaman peradaban kuno Tiongkok. Nian tinggal di dasar laut dan muncul ke pesisir setiap akhir tahun kalender China untuk memangsa hewan ternak dan manusia.

 

Suatu hari, datanglah seorang kakek berambut abu-abu di kampung yang sering mendapat serangan Nian. Ia berjanji untuk melindungi desa tersebut dari serangan Nian di akhir tahun. Meskipun demikian, warga desa masih ketakutan, sehingga mereka memutuskan untuk mengungsi sebelum malam tiba.

 

Saat Nian tiba, ia dikejutkan dengan suara petasan dan kobaran api. Ia lebih kaget saat melihat sang kakek datang dengan pakaian serba merah. Hal tersebut membuat Nian lari ketakutan. Keesokan harinya, warga desa yang pulang menemukan desa mereka tidak rusak, menyadari bahwa kakek tersebut adalah malaikat yang melindungi mereka.

 

Kakek itu memberi tahu warga desa bahwa ada tiga senjata rahasia untuk mengusir Nian, yakni barang berwarna merah, cahaya terang, dan petasan. Dari sinilah, tradisi memasang barang berwarna merah, menyalakan petasan, dan begadang pada malam Tahun Baru Imlek pun dimulai.

 

Baca Juga: Ramalan Keuangan & Keberuntungan Shio di Tahun Naga Kayu 2024

 

Sejarah Imlek Ditinjau dari Berbagai Dinasti Tiongkok

 

Beberapa sejarawan percaya bahwa perayaan Imlek dimulai pada masa Dinasti Shang (1600–1046 SM). Meskipun asal-usulnya belum diketahui dengan pasti, beberapa meyakini bahwa perayaan ini dimulai ketika orang mulai mengadakan upacara pengorbanan untuk menghormati dewa dan leluhur di awal atau akhir setiap tahun.

 

Di masa Dinasti Han (202 SM–220 M), festival Imlek mulai ditetapkan secara resmi, yakni pada hari dan bulan pertama dalam kalender lunar China. Upacara ini berkembang menjadi tradisi yang populer, termasuk aktivitas seperti membakar bambu untuk menciptakan suara retakan keras.

 

Kemudian pada masa Dinasti Wei dan Jin (220–420 M), festival ini mulai mengalami perkembangan lebih lanjut. Selain menyembah dewa dan leluhur, masyarakat mulai menghibur diri dengan membersihkan rumah, makan malam bersama keluarga, dan merayakan Malam Tahun Baru.

 

Perkembangan ekonomi dan budaya selama dinasti Tang, Song, dan Qing mempercepat evolusi festival musim semi atau Tahun Baru Imlek menjadi yang kita kenal saat ini. 

 

Tradisi modern seperti menyalakan petasan, mengunjungi keluarga dan teman, serta menikmati pertunjukan tarian naga dan barongsai, menjadi bagian integral dari perayaan tersebut.

 

Baca Juga: Daftar Ucapan Tahun Baru Imlek 2024 untuk Keluarga & Teman

 

Sejarah Imlek di Indonesia

 

Pada tahun 1946, ketika Republik Indonesia baru saja merdeka, Presiden Soekarno mengumumkan Penetapan Pemerintah tentang hari-hari raya umat beragama No.2/OEM-1946. 

 

Dalam pasal 4, disebutkan empat hari raya bagi masyarakat Tionghoa, termasuk Tahun Baru Imlek, hari wafatnya Khonghucu (tanggal 18 bulan 2 Imlek), Ceng Beng, dan hari lahirnya Khonghucu (tanggal 27 bulan 2 Imlek). Oleh karena itu, secara jelas dikemukakan bahwa Hari Raya Tahun Baru Imlek Kongzili diakui sebagai perayaan agama Tionghoa.

 

Sayangnya, pada tanggal 6 Desember 1967, Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden No.14/1967 yang membatasi pelaksanaan Upacara Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tionghoa hanya diizinkan di lingkungan keluarga dan dalam ruangan tertutup. Konsekuensinya, perayaan Imlek menjadi terbatas di kalangan tertentu dan penuh kesederhanaan.

 

Semua berubah ketika Orde Baru tumbang dan berganti dengan era Reformasi. Pada tanggal 17 Januari 2000, Presiden Abdurrahman Wahid menerbitkan Keppres No.6/2000 yang mencabut Inpres No.14/1967, memberikan kebebasan kepada masyarakat Tionghoa untuk mengamalkan agama, kepercayaan, dan adat istiadatnya, termasuk merayakan upacara-upacara agama seperti Imlek dan Cap Go Meh secara terbuka. 

 

Pada tanggal 19 Januari 2001, Menteri Agama RI mengeluarkan Keputusan No.13/2001 yang menetapkan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif. Barulah pada era Presiden Megawati Soekarnoputri, melalui Keppres Nomor 19 Tahun 2002, perayaan Imlek diresmikan sebagai hari libur nasional.

 

Sejarah Imlek di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang komunitas Tionghoa dalam melestarikan warisan budaya mereka. Dengan pengakuan dan dukungan yang semakin meningkat, perayaan Imlek di Indonesia bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga sebuah perayaan keberagaman dan persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.

91 Reads
Author: Diptyarsa Janardana
15 Suka