10 November 2023
4 menit baca

Daftar Startup Unicorn Indonesia Beserta Nilai Valuasinya 2023

4 menit baca

Daftar Startup Unicorn Indonesia

 

Indonesia saat ini menjadi rumah bagi sekitar 2.300 startup, menjadikannya sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak di Asia Tenggara. Di antara ribuan perusahaan rintisan ini, sekitar 14 di antaranya berhasil mencapai status “unicorn” atau “decacorn.” Unicorn adalah sebutan untuk startup dengan valuasi lebih dari 1 miliar USD, sementara decacorn memiliki valuasi di atas 10 miliar USD.

 

Berikut adalah daftar startup Indonesia yang telah berhasil mencapai status unicorn dan decacorn.

 

  • GoTo (Gojek dan Tokopedia)

 

GoTo, yang merupakan hasil dari merger antara Gojek dan Tokopedia pada Mei 2021, menjadi salah satu decacorn terbesar di Indonesia dengan valuasi sebesar 30 miliar USD. Gojek, yang didirikan oleh Nadiem Makarim pada Oktober 2010, adalah salah satu inisiator dalam industri ride-sharing dan layanan pengiriman makanan. 

 

Sementara Tokopedia, yang didirikan oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison pada Februari 2009, adalah salah satu platform e-commerce terkemuka di Indonesia. GoTo resmi mencatatkan saham perdana atau IPO di Bursa Efek Indonesia pada April 2022. 

 

Baca Juga: Apa itu Perusahaan Startup? Kenali Ciri-ciri & Tantangannya!

 

  • Traveloka

 

Traveloka, startup yang menyediakan layanan perjalanan online pertama di Indonesia dan Asia Tenggara, berhasil mencapai status unicorn setelah mendapatkan investasi dari Expedia pada tahun 2017. Kini, Traveloka mencatatkan valuasi sebesar 2,75 miliar USD.

 

Didirikan pada Oktober 2012 oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang, Traveloka telah mencatat berbagai prestasi membanggakan. Salah satunya adalah menjadi anggota afiliasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pariwisata.

 

  • Bukalapak

 

Bukalapak, platform e-commerce yang didirikan pada awal 2010 oleh Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Fajrin Rasyid, berhasil mencapai status unicorn pada tahun 2018 setelah mendapatkan investasi dari Emtek Group dan 500 Startups. Pada Agustus 2021, Bukalapak mencatatkan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia.

 

Tercatat, Bukalapak berhasil mencapai nilai valuasi sebesar 7,5 miliar USD pada tahun 2023. Hal ini membuat Bukalapak semakin bersaing dengan berbagai startup terkemuka di Indonesia maupun Asia.

 

  • OVO

 

OVO, perusahaan dompet digital atau e-wallet, mencapai status unicorn pada Oktober 2019. Awalnya berfokus pada aplikasi loyalitas untuk mal-mal yang dimiliki oleh Lippo Group, OVO kemudian berkembang menjadi platform e-wallet dengan lisensi dari Bank Indonesia pada 2017. Saat ini, OVO berhasil meraih valuasi sebesar 2,9 miliar USD.

 

  • Blibli

 

Blibli, adalah startup yang menjadi unicorn pada tahun 2021 dengan valuasi mencapai 1 miliar USD. Sebelum mencatatkan saham perdana, Grup Djarum menggabungkan Blibli, agen perjalanan online Tiket.com, dan supermarket Ranch Market menjadi ekosistem Blibli Tiket.

 

Baca Juga: 7 Jenis Pendanaan Startup dan Tahapan Pendanaan Perusahaan Startup

 

  • Xendit

 

Xendit, perusahaan fintech infrastruktur pembayaran atau payment gateway, mencapai status unicorn setelah mengumpulkan dana sekitar 150 juta USD dalam putaran pendanaan seri C pada tahun 2021. 

 

Didirikan pada tahun 2015 oleh Tessa Wijaya dan Moses Lu, Xendit meraih pendanaan seri D senilai 300 juta dolar AS pada Mei 2022, dengan rencana ekspansi ke tiga negara. Xendit sendiri pada tahun 2023 berhasil meraih valuasi sebesar 1 miliar USD.

 

  • Tiket

 

Tiket.com, startup travel agent yang didirikan pada Agustus 2011 oleh Wenas Agusetiawan, Dimas Surya Yaputra, Natali Ardianto, dan Mikhael Gaery Undarsa, berhasil memiliki valuasi sebesar 2 miliar USD. Pada Oktober 2022, Tiket.com bergabung dengan Blibli.com dan Ranch Market menjadi ekosistem Blibli Tiket.

 

  • J&T Express

 

J&T Express, perusahaan jasa pengiriman dan logistik menjadi salah satu startup yang berhasil meraih valuasi sebesar 7,8 miliar USD pada bulan April 2023. Hal itu membuat perusahaan logistik ini merangkak naik menjadi salah satu unicorn paling bonafit di Indonesia.

 

  • Ajaib

 

Ajaib, startup fintech bidang investasi saham dan reksa dana, mencapai status unicorn pada Oktober 2021 setelah mendapatkan dana seri B senilai 153 juta USD. Platform ini sendiri berhasil mencapai valuasi 1 miliar USD, membuatnya semakin melaju dalam memberi literasi finansial bagi masyarakat Indonesia.

 

  • Kopi Kenangan

 

Kopi Kenangan, startup kuliner dan kopi kekinian, mencapai status unicorn pada Desember 2021 dengan valuasi sebesar 1 miliar USD. Startup ini meraih dukungan dari Bursa Nasdaq, yang mengucapkan selamat atas pencapaian tersebut. Kopi Kenangan memiliki rencana ekspansi ke berbagai negara di Asia Tenggara.

 

  • Kredivo

 

Kredivo, perusahaan fintech pembiayaan atau fintech lending, mencapai status unicorn setelah meraih pendanaan hampir 140 juta USD pada Oktober 2022. Valuasi Kredivo diperkirakan sekitar 2,5 miliar USD.

 

  • DANA

 

DANA, startup fintech, dicatat sebagai unicorn dengan valuasi sekitar 1,2 miliar USD pada tahun 2022. DANA mendapatkan izin Bank Indonesia untuk menerapkan pembayaran lintas-negara melalui QR Code DANA di negara lain, seperti Thailand.

 

Baca Juga: Strategi Bakar Uang Ala Startup, Masih Efektif?

 

  • Akulaku

 

Akulaku, startup fintech lending, juga telah mencapai status unicorn dengan valuasi sekitar 1,5–2 miliar USD. Menariknya, perusahaan ini mendapatkan investasi dari Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) pada Desember 2022.

 

  • eFishery

 

eFishery, startup perikanan, berhasil mencapai status unicorn setelah meraih pendanaan seri D senilai 108 juta USD. Saat ini, eFishery sebagai startup unicorn asli Indonesia mencatat valuasi sebesar 1,3 miliar USD. Kerennya, perusahaan ini baru-baru ini mencatatkan saham perdana di Bursa Saham New York.

Banyaknya unicorn dan decacorn di Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat ekosistem startup di negara ini. Valuasi yang tinggi ini juga mencerminkan potensi besar yang dimiliki oleh Indonesia dalam industri teknologi dan kewirausahaan.

214 Reads
Author: Diptyarsa Janardana
18 Suka